Cerpen
Gitu Aja Masa
Takut
Aku terbangun dari tidurku dengan keringat yang meluncur deras
dari keningku. Aku melihat dadaku dan mengusapnya.Ini hanya mimpi, belati tajam
itu tidak benar-benar menusukku. Dan juga darahku tidak ada yang menetes
sedikitpun.
Syukurlah.Kuhela napasku dalam-dalam. Membantu paru-paruku untuk
mendapatkan pasokan oksigen yang cukup supaya rasa gugupku hilang.
Mimpi apa itu tadi?. bagaimana bisa aku memimpikan hal bodoh dan
tidak penting seperti itu. dan juga, mengapa mimpi itu terlihat begitu nyata?.
“Fiona, sudah bangun belum?”. Teriak Ibuku dari luar kamar.
“Iya ma, ini sudah bangun”. Sahutku sambil berjalan ke kamar
mandiku.
Dinginnya air di kamar mandiku ini seolah tidak ada artinya.
Kakiku masih gemetaran jika mengingat mimpi itu. Mimpi yang paling buruk yang
pernah aku mimpikan. Aku bergegas turun dan cepat-cepat menghabiskan sarapanku.
Mungkin jika perutku kenyang, aku akan lupa dengan mimpi gak jelas itu.
“Eh, Feb tumben sudah berangkat”. Sahutku waktu memasuki ruang
kelas.
“Yee, aku sih emang berangkatnya jam segini terus. yang ada kamu
yang tumben berangkat pagi-pagi. kenapa?”
“Gak tau nih. tiba-tiba pingin cepet-cepet ke sekolah. Abisnya,
tadi malam aku habis mimpi buruk banget jadi aku pingin cepet curhat sama
kamu”.
“Heleh, paling-paling juga mimpi ketemu laba-laba. Kamu kan lebay
abis”. Kata Feby meledek.
“Ya enggak lah, sama laba-laba doang mah kecil”. Sahutku.
Tiba-tiba dengan secepat kilat Feby menyodorkan gambar laba-laba
besar dari Hpnya tepat di depan mukaku. Spontan aku menjerit-jerit kaya orang
depresi gara-gara diselingkuhin pacar.
“Feby..............!!!”. Teriakku kesal.
Feby berlari keluar kelas dan berputar-putar di lapangan Voly. Aku
mengejarnya tapi tidak kena-kena. Feby larinya memang cepat banget. Tidak salah
kalau dia menjadi juara lomba lari.
“Stop!!”. Kata Feby sambil bernapas terengah-engah. “Udah Fi, aku
capek lari-larian terus”.
“Iya Feb, aku juga capek”. sahutku sambil terengah-engah.
Aku dan Feby kemudian berbaring di atas beton yang dingin karena
belum lama terkena sinar matahari. Menikmati pemandangan langit biru yang
indah, dengan taburan burung-burung yang beterbangan untuk mencari makan,
bagaikan peri-peri cantik di negeri dongeng.
“Fi”. Kata Feby memecah keheningan
“Iya”.
“kamu kok bisa takut banget sih, sama laba-laba?”.
“Hmm, ceritanya gak masuk akal banget. aku cerita pun gak bakalan
percaya”. kataku sambil masih memandangi langit.
“Ceritain dong Fi. kepo banget nih”.
“Tapi, ya sudah deh kalau kamu maksa”. Sahutku ringan. “Ceritanya,
dulu waktu kecil itu aku sukaaaa banget sama binatang, semua binatang, termasuk
laba-laba”.
“Terus”. Tanya Feby penasaran.
“Terus waktu itu aku main sama laba-laba besar. aku tarik-tarik benang
kaba-laba itu dari bokongnya terus aku ikat-ikatkan ke jariku”.
“Terus”.
“kan sudah main lama banget nih, ya aku sudah capek lah. tapi
berhubung aku ini orangnya bertanggung jawab banget”. kataku sambil nyengir. “jadi
selesai main laba-labanya mau aku kembali’in ke sarangnya”.
“Haduh Fi, terus yang bikin takut apanya?. Cuma gitu-gitu doang”.
Gerutu Feby kesal.
“Sabar dulu dong Feb, ini masih belum selesai tau”.
“Ya sudah, lanjut”.
“Terus sebagai ucapan terimakasih karena sudah main sama aku,.
karena dia gak bakalan mungkin salaman sama aku jadi, sebagai gantinya laba-labanya
aku cium. tapi malah mulutku digigit sama dia. Rese banget kan?. makanya itu
aku takut banget sama laba-laba”.
“Hahahaha”, Feby tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceritaku.
“Fi, Fi, gimana bisa kamu nyium laba-laba?. buat terimakasih?”
“Apa salahnya sih?. Cuma nyium doang kok”. bantahku kesal.
“Untung kamu gak nyium aku kalau habis main bareng”. kata Feby
masih tidak berhenti menertawaiku..
“Uh, sudah deh.gak ada yang lucu tau. gak usah bahas itu bikin
bete aja”.
Kebetulan banget hari ini jam pertama adalah jam olahraga. jadi, aku
dan Feby tidak perlu repot-repot jalan ke kelas dulu. Kita berdua masih
berbaring di atas beton dingin itu sambil menunggu anak-anak yang lain datang.
Feby masih asyik meledekku dan aku juga masih sibuk membela diri. Kami berdua sangat
menikmati suasana pagi itu.
Tapi, tiba-tiba saja suasana berubah menjadi sangat mencekam.
BRRAAAKK
Terdengar suara tabrakan di luar gerbang di sebelahku dan Feby
tiduran. Aku dan Feby langsung berlari menuju gerbang dan melihat apa yang
sedang terjadi.
Hatiku mencelos ketika melihat seseorang berlumuran darah dan
tidak sadarkan diri di terkapar di pinggir jalan. Tabrakan antara mobil dan
motor itu membuat teman-temanku yang lain berlarian untuk ikut melihat apa yang
sedang terjadi. Sedangkan Orang-orang lain yang melihat berlarian dan bergegas menolong.
Aku memandangi Seorang cowok laki-laki yang berlumuran darah
digendong oleh warga setempat menuju ke pinggir jalan.
“Fi, kayaknya itu Aldo deh”.
Lidahku kelu tanpa bisa mengucapkan sepatah kata apapun. Aku hanya
menggelengkan kepala menanggapi entah apa yang barusan diucapkan Feby. Aku memang
benar-benar penakut. kenapa aku sangat takut sama darah. apalagi sampai segitu
banyaknya.
“Fi, itu beneran Aldo. Ayo, kita lihat lebih dekat Fi”. Kata Feby
sambil hampir berjalan meninggalkanku.
“Fiona. Ayo kesana”. Ajak Feby.
Aku menggelengkan kepala
dan masih membeku ditempat.
“Ayo Fi”. Kata Feby sambil menarik-narik tanganku.
“Enggak Feb. aku gak berani”.
“Ya sudah deh. kalau kamu nggak ikut aku kesana sendiri. kamu di
sini saja ya”.
Aku kembali ke kelas dengan kaki gemeteran hampir mirip kaya orang
yang habis kesetrum. apalagi aku malah jadi ingat mimpi semalam yang
menyeramkan itu. aku duduk di bangkuku sambil berusaha menenangkan diri.
setengah jam kemudian
teman-temanku masuk ke kelas. aku bisa menebak pasti sekarang ini jam kosong.
soalnya guru olahraga tadi kayaknya ikut mengantar Aldi ke rumah sakit.
semuanya langsung membahas Aldi. dan aku juga langsung ikut gabung.
“Teman-teman. Aldi kasian banget ya. katanya dia kehilangan banyak
darah”. Kata Salsa merengek.
“Iya Sa, mana golongan darahnya langka banget lagi. sampai-sampai
di rumah sakit itu gak ada”.
“Memangnya golongan darahnya apa kok sampai langka banget?.
memangnya stok di rumah sakit sudah beneran gak ada?”. sahutku.
“Beneran Fi, udah gak ada. kamu tau gak golongan darahnya apa?”
“Ya enggak lah, memangnya aku dokternya?”
“Golongan darahnya itu mirip sayuran gitu. bawang apaan sih
tadi?!!, aku lupa!”. kata Vira jengkel.
“Bawang apaan?. memangnya mau masak? pake bawang segala.”. Sahut
Rina.
“Mm, maksudmu Bombay Vir?”. sahutku lagi. “Itu kayak yang di Film
Hijab in Love dulu”. sahutku sambil meringis.
“Iya bener Fi, O bombay kamu tumben nyambung bicaranya”.
“Hmm, emang kapan sih aku pernah gak nyambung?”. sahutku sambil
menjulurkan lidah.
“Mm, kayaknya aku pernah dengar golongan darah itu deh”. sahut
Feby yang entah datang dari mana. “Iya, aku ingat. Itu kan sama kayak golongan
darahmu Fi?”.
“Hah! masa?”.
“Yaelah Fi, golongan darah sendiri masa gak tau?”
“Memang nggak tau, soalnya aku gak pernah cek darah”.
“Iya Fi, golongan darah kamu itu O bombay. Dulu ibu kamu yang
bilang pas kamu di rumah sakit, pas kepalamu bocor, pas Smp dulu, masa kamu gak
ingat?”. kata Feby panjang lebar.
“Iya sih Feb, tapi aku gak tau apa-apa masalah gitu-gituan. yang
tau orang tuaku.”.
“Coba cek darah dulu deh, siapa tau beneran O bombay. kasihan Aldi
Fi, dia udah butuh banget”.
“Iya sih guys, tapi masalahnya aku itu takut banget sama yang
namanya suntik, apalagi darahnya sampai disedot-sedot kaya nyamuk gitu. aku gak
berani”.
“Haduh Fi, Cuma di sedot dikit aja. gak sakit kok”.
“Iya Fi, atau jangan-jangan kamu masih mikirin permusuhanmu sama
dia lagi makanya gak mau donorin darah punya kamu?”.
“Bukan-bukan gara-gara itu. lagipula aku aku sama Aldi bukan musuh
beneran kok, Cuma kadang-kadang sebel aja. aku Cuma takut. aku belum pernah sama
sekali soalnya”.
“Iya Fi, kita tau kamu takut. tapi kalau kamu masih punya hati,
kamu pasti berani”.
“Teman-teman...”
aku berdiri dan keluar kelas untuk berpikir lagi. Aku bingung banget
mau ngapain sekarang. Aku sangat takut sama yang acara donor-donor darah
seperti itu. pokoknya apapun yang berhubungan sama darah aku takut. bagaimana
bisa donorin darahku?.
Tapi teman-teman benar. ini bukan waktunya untuk mikir panjang.
ini bukan waktunya takut. Teman sekelasku sedang membutuhkan bantuan. aku harus
menolongnya atau aku akan menyesal seumur hidupku.
Ku tarik napasku dalam-dalam. kumantapkan langkah kakiku.
kukumpulkan seluruh keberanian yang tersisa dalam hatiku dan berharap ini bisa
berhasil. dan Akhirnya tiba-tiba saja aku sudah sampai di rumah sakit tempat Aldo
di rawat. aku masuk ke ruangan entah apa yang di buat untuk cek darah dan donor
darah.
Perawat itu membersihkan jariku dengan kapas. dan kemudian melukai
jariku menggunakan entah apa namanya yang mirip pulpen dengan jarum di
ujungnya. rasanya tidak sakit. Cuma mirip di gigit semut yang giginya tonggos.
Hasil tes darahku benar-benar positif sama dengan darahnya aldo.
Sekarang tiba waktunya untuk menyedot darahku ke dalam kantung
plastik kecil untuk Aldo. Aku terus berdoa dan memejamkan mata supaya tidak
terlalu takut. Sampai aku ketiduran gara-gara kelamaan merem.
Proses Donor darah selesai. aku masih berbaring lemas di tempat
donor darah itu. entah ini lemas karena habis donor darah atau gara-gara apa
juga gak tau. perawat kemudian memberiku buah-buahan segar untuk dimakan.
mungkin untuk mengembalikan energiku.
ternyata donor darah tidak semengerikan apa yang terbayang di
otakku. mungkin aku yag terlalu lebay dan berimajinasi terlalu mengerikan
sampai-sampai terbawa suasana dan terlihat begitu nyata. padahal sebenarnya
rasanya juga nggak sakit dan juga tidak mengerikan. rasanya juga Cuma itu-itu
saja. bahkan sakitnya mendonorkan darah itu masih lebih sakit kalau habis
terjepit pintu.
Beberapa saat setelah tranfusi darah Aldo dilakukan keadaanya
sekarang sudah mulai membaik. Aku hanya menengoknya sebentar dan langsung
pulang ke rumah untuk istirahat dan bertemu dengan mama papaku yang tercinta
dan juga nenek dan adikku yang lucu.
Besoknya, minggu aku pergi menjenguk Aldo. ku bawakan bunga mawar
kesukaanku yang aku petik langsung dari taman di sebelah kamarku. maksudnya ini
bukan karena cinta atau apalah. kalian tau kan aku sama Aldo bukan teman yang
baik?. jadi ini hanya sebatas menjenguk dan memastikan keadaannya sudah
membaik.
Aku mengintip dari kaca pintu memastikan dia masih tidur.
“Yang di luar masuk aja”. Kata Aldo tiba-tiba. bikin aku kaget
setengah mati. tapi berhubung sudah ketahuan ya aku masuk aja kekamarnya.
“Mm, gimana do, sudah baikan?”.
“Sudah. Thanks ya. anak-anak bilang katanya kamu yang sudah
donorin darah buat aku”.
“Oh, itu. Mm, itu sih Cuma.. Mmm, maksudnya...”.
“Ehem”, kata aldo sambil meringis. “Itu yang kamu bawa apa?”.
“Oo, ini. iya tadi aku petik ini mau aku bawa ke sekolah”. kataku
gugup. “Tapi berhubung kamunya sudah sadar aku taruh di sini aja deh”.
“makasi lagi deh”. Kata Aldo. “Tapi ngomong-ngomong hari minggu
sekarang sudah bukan hari libur nasional lagi ya?”.
Ups, kacau gimana bisa lupa sih, kalau sekarang minggu?. padahal
kan sudah gak pake seragam.
“Oh, itu sih buat ngetes kamu aja. siapa tau kamu amnesia. hehe”.
kataku sambil meringis
“Haha, ya enggak lah”. kata Aldo. “O iya Fi, kenapa kamu donorin
darah buah aku?. katamu dulu kita kan musuh?”.
“Haha, iya juga sih. buat apa aku donorin darah buat kamu. tapi
memangnya kamu mau mati?.Iya aku tau kalau kamu itu musuh bebuyutan. tapi mau
gimana lagi. kamu kan juga manusia. mana bisa aku tinggal diem gak
ngapa-ngapain padahal aku bisa nolong. kalau kamu sampai mati. aku gak mau
merasa bersalah karena diem aja terus kamu gentayangin aku 7 hari 7 malam”.
kataku sambil menjitak-jitak kepalanya Aldo.
“Aduh-aduh. Fi, kamu galak banget sih. aku kan masih sakit. masih
aja di keroyok”.
“Hehe, kebawa suasana Al, soalnya tanganku ini kalau gak di pake
njitak kamu itu rasanya gatel banget”.
“Yee, kalau aja sekarang ini aku gak lagi sakit. sudah ku bales
sepuluh kali lipat”. Gerutu Aldo sambil melipat tangannya. “Aduh, Fi kepalaku
sakit banget. Fi, tolongin aku Fi”. kata Aldo merintih kesakitan sambil
memegangi kepalanya.
“Aldo!!. kamu kenapa?”. teriakku kaget.
“Gak tau Fi, kepalaku sakit banget. perutku juga mual”. kata Aldo
sambil mau muntah.
“Aldo, jangan bercanda dong. kamu nyebelin banget sih”. kataku
panik.
Tiba-tiba Aldo pingsan. Aku semakin panik. Ku tekan-tekan tombol darurat
sampai beberapa kali karena panik.
“Dokter. tolong!!”. Teriakku.
“Aldo, kamu jangan bercanda dong. aku takut banget nih. Aldo ayo
bangun!!”. kataku panik sambil menggoyang-goyangkan badannya. dan menepuk-nepuk
pipinya.
Ya tuhan. bagaimana ini bisa terjadi. aku tadi Cuma bercanda. aku
tidak bermaksud bikin Aldo semakin parah.
“Aldo!! Aldo, ayo bangun”. aku mulai menangis karena merasa
bersalah. tidak lama kemudian perawat datang memeriksa keadaan Aldo.
“Gimana suster? keadaan teman saya?”. kataku masih terisak.
“Teman kamu baik-baik saja kok. tidak ada masalah apa-apa”.
“Tapi tadi katanya kepalanya sakit terus mual-mual juga suster”.
kataku panik.
“Iya, tapi teman kamu tidak apa-apa. mungkin dia butuh istirahat
sebentar”. Perawat itu tiba-tiba langsung meninggalkan ruangan begitu saja.
“Loh, kok pergi,,”, kataku pelan. “Aduh, gimana ini?”.
“Aldo, bangun dong. aku gak beramaksud ngebunuh kamu tadi. kamu
jahat banget”. aku tidak bisa berhenti menangis. “Aku dulu memang benci banget
sama kamu. tapi sekarang sudah enggak kok. kalau kamu sadar sekarang. kamu
bakalan jadi temen aku deh. aku janji”.
“Mending aku sadarnya nanti aja deh Fi, daripada sadar sekarang
nanti malah punya temen galak, terus cerewet kayak kamu”.
“Aldo?. kamu sadar?”
“Enggak kok aku belum sadar”
“Aldooo, jangan gitu dong. dasar nyebelin” kataku mencubit
lengannya
“Aduh!. Tuh kan kamu galak”.
“jadi kamu ngerjain aku?. dasar udah mau mati masih aja ngerjain
orang”.
“Eh eh Fi, gak boleh sembarangan gitu dong ngomongnya. emang dasar
ya, yang namanya musuh itu emang gak pernah baik”.
“Hehe, ya maap-maap. aku kan Cuma ngomong apa adanya. ya sudah deh
aku pulang dulu”.
“Iya deh, aku maafin. tapi, kamu tadi nangisin aku? kenapa?”.
“Siapa yang nangisin kamu. tadi mataku dicolok sama susternya”.
jawabku ketus sambil meninggalkan Aldo sendirian.
Setelah kecelakaannya Aldo, semuanya berubah menjadi sangat baik.
bahkan aku dan Aldo sekarang berteman dekat. Sekarang aku sudah tidak takut
lagi buat donor darah. apapun itu ketakutanku, akan lebih baik kalau aku
melawannya, karena itu hanya menghambat hal-hal baik yang mungkin bisa aku
lakukan untuk menolong orang. Daripada aku pusing mikirin rasa takutku sama
darah, lebih baik aku memikirkan kapan lagi aku akan mendonorkan darahku.
karena di sana mungkin ada lebih banyak lagi yang butuh pertolongan. jadi, akan
kulupakan semua rasa takutku dan menolong lebih banyak orang. good luck guys. Tetap
Semangat and be better.

Komentar
Posting Komentar